MATERI


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


selamat datang di blog sederhana kami, saat ini kami akan membagikan penjelasan dari kelebihan pembelajaran tematik terpadu.

berikut cuplikan dari materi tersebut:



Kelebihan pembelajaran melalui tematik :

1. Memuat beberapa pelajaran dalam satu buku sehingga lebih praktis dan mudah dibawa dibandingkan dengan sistem pembelajaran melalui sistem biasa (IPA, IPS, PPKN, Matematika, dan lain sebagainya).

2. Sistem pembelajarannya tidak kaku, lebih mementingkan informasi tentang kehidupan sehari - hari, banyak terdapat gambar bertema kehidupan sehari - hari sehingga lebih mudah dimengerti daripada sistem pembelajaran melalui sistem formal misalnya pelajaran IPA saya dulu ketika saya sekolah lebih membingungkan karena jarang terdapat gambar dan informasi tentang kehidupan sehari-hari.

3. Tugas yang diberikan tidak hanya berupa pertanyaan, melainkan berupa aktivitas dan percobaan sederhana agar siswa lebih berfikir kritis dan meningkatkan kreativitas seperti mengukur berat buah, bermain permainan tradisional, dan lain - lain.

Namun dibalik kelebihan, tentu ada kekurangan yang ada pada sistem pembelajaran melalui tematik ini, antara lain :

1. Sistem penilaian tugas dalam pembelajaran tematik memang berupa aktivitas sederhana yang sering siswa lakukan dalam kehidupan sehari-hari, namun sering kali tugas dan aktivitas yang diberikan melampaui batas nalar siswa seperti membuat karya yang terbuat dari bahan yang sulit ditemukan, ataupun membuat karya yang sulit untuk dibuat. Akibatnya, yang ada bukan hanya siswa yang terbebani, tetapi orang tua pun ikut terbebani. Jadi bisa dikatakan sistem penugasan pada sistem tematik terlalu berat bagi siswa.

2. Ketika PTS(UTS), PAS, PAT, atau segala jenis ulangan yang hanya memuat satu pelajaran saja. Maka akibat fatalnya adalah membuat siswa kebingungan akan materi yang diujikan. Karena buku tematik itu campur aduk pelajarannya. Misalnya halaman 1 Matematika, halaman 2 - 3 Bahasa Indonesia, halaman 4 PPKN, dan sebagainya. Maka, ini akan membuat siswa bahkan orang tua kebingungan dan harus mencari halaman tertentu yang tentu sangat merepotkan. Belum lagi jika siswa jarang disuruh gurunya membuat ringkasan atau resume materi yang telah disampaikan. Yang ada mbuat siswa menjadi stres karena sistem pembelajaran ini.

3. Sistem pembelajaran melalui tematik ini berarti peran guru tidak seluruhnya membahas atau mengajarkan suatu materi kepada siswa, melainkan siswa harus mencari materi sendiri dan membahas materi secara perorangan. Jadi guru tidak sepenuhnya bertanggung jawab terhadap materi yang diajarkan muridnya. Melainkan siswanya lah yang mengharuskan mempelajari materinya sendiri. Ini justru akan mengakibatkan ketidakpahaman suatu materi (apalagi Matematika yang banyak rumusnya dan perlu diketahui konsepnya) dan mengakibatkan siswanya menjadi malas belajar. Karena tidak semua siswa bisa memahami suatu materi hanya dengan membaca atau menulis ringkasan terhadap materi yang yang diajarkan.

4. Masih ada hubungannya dengan point 3, bahkan buku yang memuat tematik saja tidak memperoleh informasi tentang suatu materi secara rinci. Misalnya saja materi Pengukuran panjang. Materinya tidak membahas rumus - rumus pengukuran dan cara mengonversikannya. Melainkan hanya memperkenalkan istilahnya saja. Pertanyaan yang diberikan oleh buku tersebut terlalu rumit bagi siswa karena siswa tidak diberi tahu rumus - rumus ataupun cara menyelesaikan soal - soal itu dengan tepat. Ini akan mengakibatkan siswa menjadi frustasi dan merasa terbebani terhadap materi yang tertuang pada buku tersebut. Atau lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar berikut :

Pada gambar di atas terlihat dengan jelas bahwa materi tersebut tidak disampaikan secara detail. Melainkan siswa sendiri harus memecahkan masalah pada gambar tersebut. Yang membuat beban menjadi siswa.

Pada soal latihan di atas siswa diharuskan mengidentifikasi skala (angka) yang ditunjuk pada jarum, menyebutkan angka dan berat(massa)nya, dan memilih mana timbangan dan berat yang cocok. Sedangkan menurut saya, hal seperti ini sama sekali tidak dimengerti oleh siswa terutama siswa SD kelas rendah (I, II, dan III). Bayangkan saja skala — skala pada timbangan tersebut sangat kecil dan diperparah dengan materi yang tidak tersampaikan secara detail yang mengakibatkan siswa tersebut tidak mengerti dan mengakibatkan nilai menjadi rendah dan bahkan jauh di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Sedangkan soal itu saya pelajari waktu saya SMP jadi tidak cocok dengan kondisi siswa yang masih kelas rendah.

Sekian dulu ya, saya tegaskan bahwa ini hanya 100% pendapat saya. Jika ada kesalahan kata mohon maaf. Terima kasih.

Komentar